LINEAR PROGRAMMING
Formulasi Model LP
Masalah keputusan yang biasa dihadapi para analis adalah alokasi
optimum sumber daya yang langka. Sumber daya dapat berupa modal, tenaga kerja,
bahan mentah, kapasitas mesin, waktu, ruangan atau teknologi. Rugas analis
adalah mencapai hasil terbaik yang mungkin dengan keterbatasan sumber daya ini.
Hasil yang diinginkan mungkin ditunjukkan sebagai maksimasi dari beberapa
ukuran seperti profit, penjualan dan kesejahteraan, atau minimasi seperti
biaya, waktu dan jarak.
Setelah
masalah diidentifikasikan, tujuan diterapkan, langkah selanjutnya adalah
formulasi model matematik yang meliputi tiga tahap :
1. Menentukan
variabel yang tak diketahui (variabel keputusan) dan menyatakan dalam symbol matematik
2. Membentuk
fungsi tujuan yang ditunjukkan sebagai suatu hubungan linier (bukan perkalian)
dari variabel keputusan
3. Menentukan
semua kendala masalah tersebut dan mengekspresikan dalam persamaan dan
pertidaksamaan yang juga merupakan hubungan linier dari variabel keputusan yang
mencerminkan keterbatasan sumberdaya masalah itu
Pembentukan
model bukanlah suatu ilmu pengetahuan tetapi lebih bersifat seni dan akan
menjadi dimengerti terutama karena praktek.
Contoh
1 : Masalah Kombinasi Produk
Sebuah perusahaan
ingin menentukan berapa banyak masing-masing dari tiga produk yang berbeda yang
akan dihasilkan dengan tersedianya sumber daya yang terbatas agar diperoleh
keuntungan maksimum. Kebutuhan buruh dan bahan mentah dan sumbangan keuntungan
masing-masing produk adalah sebagai berikut :
Tersedia 240 jam
kerja dan bahan mentah sebanyak 400 Kg. Masalahnya adalah menentukan jumlah
masing-masing produk agar keuntungan maksimum. Rumusan model LP-nya adalah :
A. Variabel
Keputusan
Tiga variabel dalam masalah ini adalah produk A, B dan C yang
harus dihasilkan. Jumlah ini dapat dilambangkan sebagai :
X1 =
jumlah produk A
X2 =
jumlah produk B
X3 =
jumlah produk C
B. Fungsi
tujuan
Tujuan masalah kombinasi produk adalah memaksimumkan keuntungan
total. Jelas bahwa keuntungan adalah jumlah keuntungan yang diperoleh dari
masing-masing produk. Keuntungan dari produk A adalah perkalian antara jumlah
produk A dengan keuntungan per unit (Rp 3,-). Keuntungan produk B dan C
ditentukan dengan cara serupa. Sehingga keuntungan total Z, dapat ditulis :
Z = 3 X1 + 5 X2 + 2 X3
C. Sistem
kendala
Dalam masalah ini kendalanya adalah jumlah buruh dan bahan mentah
yang terbatas. Masing-masing produk membutuhkan baik buruh maupun bahan mentah.
Produk A, buruh yang dibutuhkan untuk menghasilkan tiap unit adalah 5 jam,
sehingga buruh yang dibutuhkan untuk produk A adalah 5 X1 jam.
Dengan cara yang serupa produk B membutuhkan 2 X2 jam buruh, dan produk
C butuh 4 X3
jam, sementara jumlah jam buruh yang tersedia adalah 240 jam.
Sehingga dapat ditulis :
5 X1 + 2 X2 + 4 X3 ≤ 240
Kendala bahan mentah dirumuskan dengan cara yang sama, yaitu untuk
produk A butuh bahan mentah sebanyak 4 kg per unit, produk B membutuhkan 6 kg
per unit dan produk C butuh 3 kg per unit. Karena yang tersedia adalah sebanyak
400 kg bahan mentah, maka dapat ditulis :
4 X1 + 6 X2 + 3 X3 ≤ 400
Kita juga membatsi masing-masing variabel hanya pada nilai
positif, karena tidak mungkin untuk menghasilkan jumlah produk negatif.
Kendala-kendala ini dikenal dengan non negativity constraints dan secara matematis
dapat ditulis :
X1 ≥ 0, X2 ≥ 0, X3 ≥ 0 atau X1, X2, X3 ≥ 0
Pertanyaan
yang timbul adalah mengapa kendala dituliskan dengan tanda pertidak-samaan ( ≤
), bukannya persamaan ( = ). Persamaan secara tidak langsung mengatakan bahwa
seluruh kapasitas sumber daya digunakan, sementara dalam pertidaksamaan
memperbolehkan penggunaan kapasitas secara penuh maupun penggunaan sebagian
kapasitas. Dalam beberapa kasus suatu solusi dengan mengizinkan adanya
kapasitas sumberdaya yang tak terpakai akan memberikan solusi yang lebih baik,
yang berarti keuntungan lebih besar, dari pada penggunaan seluruh sumber daya.
Jadi, pertidaksamaan menunjukkan keluwesan.
Dari
masalah diatas, formulasi LP secara lengkap dapat ditulis :
Maksimumkan Z = 3 X1 + 5 X2 + 2 X3
Dengan syarat 5
X1 +
2 X2 +
4 X3 ≤
240
4 X1 + 6 X2 + 3 X3 ≤ 400
X1, X2, X3 ≥ 0
Contoh
2 : Masalah Diet
Untuk
menjaga kesehatan, seseorang harus memenuhi kebutuhan minimum perhari akan
beberapa zat makanan. Misalkan hanya ada tiga jenis zat makanan yang dibutuhkan
yaitu kalsium, protein, dan vitamin A. Sementara makanan yang tersedia ada tiga
jenis juga yaitu, makanan A, B dan C yang harganya, zat-zat yang tekandung
didalamnya, dan kebutuhan minimum perhari akan zat-zat makanan tersebut dapat
dilihat pada tabel berikut :
Masalahnya
adalah bagaimana kombinasi ketiga jenis makanan itu akan memenuhi kebutuhan
minimum perhari dan memberikan biaya terendah.
A. Variabel
keputusan
Masalah ini terdiri dari tiga variabel yang menunjukkan jumlah
masing-masing jenis makanan yang ditempatkan dalam menu, yaitu :
X1 =
jumlah makanan A
X2 =
jumlah makanan B
X3 =
jumlah makanan C
B. Fungsi
tujuan
Tujuan masalah ini adalah meminimumkan biaya total menu perhari.
Biaya total dalam konteks ini adalah jumlah biaya dari masing-masing jenis
makanan yang disajikan dalam menu. Sehingga biaya total, Z, ditulis :
Z = 0,5 X1 + 0,8 X2 + 0,6 X3
C. Sistem
kendala
Dalam masalah ini, kendalanya adalah kebutuhan minimum akan
zat-zat makanan perhari yang telah ditetapkan. Kendala untuk kalsium ditulis :
5 X1 + X2 ≥ 8
5 X1 adalah sumbangan kalsium dari makanan A
X2 adalah sumbangan kalsium dari makanan B
Pada contoh ini digunakan pertidaksamaan “≥” yang menunjukkan
jumlah minimum kalsium yang dibutuhkan. Dengan kata lain, sekurang-kurangnya 8
unit kalsium harus dipenuhi.
Kendala untuk protein dan vitamin A dibuat dengan cara yang sama,
yaitu :
2 X1 + 2 X2 + X3 ≥ 10 Protein
X1 + 5 X2 + 4 X3 ≥ 22 Vitamin A
Masalah LP secara lengkap dapat ditulis :
Minimumkan Z = 0,5 X1 + 0,8 X2 + 0,6
X3
Dengan syarat 5 X1 + X2 ≥ 8
2 X1 + 2 X2 + X3 ≥ 10 X1 + 5 X2 + 4 X3 ≥ 22
X1 , X2 , X3 ≥ 0
BENTUK
UMUM MODEL LP
Dari
contoh yang sudah ditulis diatas secara mendalam terlihat adanya suatu pola
yang khas untuk merumuskan secara umum suatu masalah LP. Pada setiap masalah,
ditentukan variabel keputusan, fungsi tujuan, dan sistem kendala, yang
bersama-sama membentuk suatu model matematik dari dunia nyata. Bentuk umum
model LP itu adalah : n
ΣijMaksimumkan
(minimumkan) Z = c j xj
Dengan
syarat : aij
xj (≤ , = , ≥) bi , untuk semua i (i = 1, 2, …m)
semua xj ≥
0
Keterangan
:
xj :
banyaknya kegiatan j, dimana j = 1, 2, …n, yang berarti terdapat n variabel
keputusan
Z :
nilai fungsi tujuan
cj :
sumbangan per unit kegiatan j, untuk masalah maksimasi cj menunjukkan
atau penerimaan per unit, sementara dalam kasus minimasi ia menunjukkan biaya
per unit.
bi :
jumlah sumberdaya ke i (i = 1, 2, …m), berarti terdapat m jenis sumberdaya.
xij :
banyaknya sumberdaya i yang dikonsumsi sumberdaya j.
Yang
perlu diingat adalah tanda pertidaksamaan tidak harus sama untuk setiap kendala
!
ASUMSI
MODEL LP
Model
LP mengandung asumsi-asumsi implisit tertentu yang harus dipenuhi agar
definisinya sebagai suatu masalah LP menjadi absah. Asumsi itu menuntut bahwa
hubungan fungsional dalam masalah itu adalah linier dan additif, dapat dibagi
dan deterministik.
Linearity
dan Additivity
Bahwa
fungsi tujuan dan semua kendala harus linier. Dengan kata lain, jika suatu
kendala melibatkan dua variabel keputusan, dalam diagram dimensi dua ia
akan berupa garis lurus. Begitu juga, suatu kendala yang melibatkan tiga
variabel akan menghasilkan suatu bidang datar dan kendala yang
melibatkan n variabel akan menghasilkan hyperplane (bentuk
geometris yang rata) dalam ruang berdimensi n.
Kata
linier secara tidak langsung mengatakan bahwa hubungannya proporsional yang
berarti bahwa tingkat perubahan atau kemiringan hubungan fungsional itu adalah
konstan dan karena itu perubahan nilai variabel akan mengakibatkan perubahan
relatif nilai fungsi tujuan dalam jumlah yang sama.
LP
juga mensyaratkan bahwa umlah variabel kriteria dan jumlah penggunaan sumber
daya harus bersifat additif. Contohnya, keuntungan total Z yang merupakan
variabel kriteria, sama dengan jumlah keuntungan yang diperoleh dari
masing-masing kegiatan, cj xj. Juga, seluruh sumber daya yang
digunakan untuk seluruh kegiatan, harus sama dengan jumlah sumber daya yang
digunakan untuk masing-masing kegiatan.
Additif
dapat diartikan sebagai tak adanya penyesuaian pada perhitungan variabel
kriteria karena terjadinya interaksi. Contohnya, dalam masalah kombinasi produk
disebutkan bahwa keuntungan per unit produk A Rp 3,- ,produk B Rp 5,- , dan
produk C Rp 2,-. Jika masing-masing produk dijual secara terpisah. Tetapi bisa
jadi, kalau dijual secara serentak pada daerah yang sama dapat menyebabkan
penurunan keuntungan, sehingga perlu memasukkan penyesuaian interaksi ke dalam
variabel kriteria, misalnya saja menjadi :
Z =
3 X1 +
5 X2 +
2 X3 -
X1 X2 X3
Model terakhir ini adalah tidak linier,
dan metode LP tak dapat menangani masalah demikian !
1. Divisibility
Asumsi ini berarti bahwa nilai solusi yang diperoleh Xj ,
tidak harus bilangan bulat. Ini berarti nilai Xj dapat berupa nilai pecah.
Karena itu variabel keputusan merupakan variabel kontinyu, sebagai lawan dari
variabel diskrit atau bilangan bulat.
2. Deterministic
Semua parameter model (cj, aij dan bi)
diasumsikan diketahui konstan. LP secara tak langsung mengasumsikan suatu
masalah keputusan dalam suatu kerangka statis dimana semua parameter diketahui
dengan kepastian. Dalam kenyataannya, parameter model jarang bersifat
deterministik, karena mereka mencerminkan kondisi masa depan maupun sekarang,
dan keadaan masa depan jarang diketahui secara pasti.
Ada beberapa cara untuk mengatasi ketidakpastian parameter dalam
model LP. Analisa sensitivitas adalah suatu teknik yang dikembangkan untuk
menguji nilai solusi, bagaimana kepekaannya terhadap perubahan-perubahan
parameter.
PENYELESAIAN
GRAFIK MODEL LP
Masalah LP
dapat diilustrasikan dan dipecahkan secara grafik jika ia hanya memiliki dua
variabel keputusan. Meski masalah-masalah dengan dua variabel jarang terjadi
dalam dunia nyata, penafsiran geametris dari metode grafik ini sangat
bermanfaat. Dari sini, kita dapat menarik kesimpulan yang akan menjadi dasar
untuk pembentukan metode pemecahan (solusi) yang umum melalui algoritma
simpleks.
Contoh
3 : Kombinasi produksi
Disamping
itu, menurut bagian penjualan diramalkan, bahwa permintaan produk 1 tidak akan
melebihi 4 unit.
Masalah
contoh 3 dapat dirumuskan :
Maksimumkan
Z = 4 X1 +
5 X2
Dengan
syarat X1 + 2 X2 ≤ 10
6 X1 + 6 X2 ≤ 36
X1 ≤ 4
X1 , X2 ≥ 0
Suatu
cara sederhana untuk menggambarkan masing-masing persamaan garis adalah dengan
menetapkan salah satu variabel dalam suatu persamaan sama dengan nol dan
kemudian mencari nilai variabel yang lain. Misalnya pada kendala pertama jika X1 = 0,
maka 5 X2 =
10 atau X2
= 5. Dengan cara yang sama X2 = 0, maka X1 = 10.
Kedua titik ini {(0,5) dan (10,0)} kemudian dihubungkan dengan suatu garis
lurus.
Suatu
daerah yang secara bersamaan memenuhi ketiga kendala ditunjukkan oleh area yang
diarsir yaitu area ABCDE pada gambar grafik. Wilayah ini dinamakan
solusi layak atau ruang solusi. Sementara itu, pasangan nilai-nilai (X1 , X2) di
luar daerah ini bukan merupakan solusi layak, karena menyimpang dari satu atau
lebih kendala.
Sementara
hasil optimal Z dapat ditunjukkan pada titik terluar pada daerah solusi layak.
Ada dua hal yang perlu diperhatikan, kaitannya dengan fungsi tujuan yaitu :
1.
Semua garis Z adalah sejajar, atau memiliki kemiringan yang sama sebesar - 4/5
yang diperoleh melalui perhitungan berikut : X2 = Z/5 – (4/5) X1
2.
Garis Z adalah garis-garis sejajar dalam jumlah tak terbatas.
SUMBER
:
peni.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/7498/Linier+Prog.pdf
Linear programing : formulasi masalah dan pemodelan
No comments:
Post a Comment