Thursday, February 19, 2015

Utang Luar Negeri RI Tembus US$ 292,6 Miliar



Utang Luar Negeri RI Tembus US$ 292,6 Miliar

Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri Indonesia pada akhir kuartal IV-2014 tercatat sebesar US$ 292,6 miliar atau setara Rp 3.754,6 triliun (kurs: Rp 12.832 per US$). Angka itu turun 0,4 persen dibandingkan posisi akhir triwulan III 2014 sebesar US$ 293,7 miliar.

Utang luar negeri turun ini terutama dipengaruhi oleh menurunnya posisi utang luar negeri (ULN) sektor publik baik pinjaman maupun kewajiban luar negeri lainnya, masing-masing sebesar US$ 1,9 miliar dan US$ 1,7 miliar.

Dengan perkembangan itu, rasio utang luar negeri terhadap produk domestik bruto (PDB) dan debt service ratio (DSR) turun masing-masing dari 33,3 persen dan 46,4 persen pada kuartal III 2014 menjadi 32,9 persen dan 46,2 persen pada kuartal IV 2014.

Bila dibandingkan tahun sebelumnya, posisi utang luar negeri meningkat US$ 26,5 miliar atau 9,9 persen dari posisi akhir 2013 sebesar US$ 266,1 miliar. Kenaikan itu dipengaruhi kenaikan pinjaman luar negeri baik sektor publik sebesar 5 persen maupun sektor swastaa 14,2 persen.

Utang luar negeri sektor swasta masih terbesar di Indonesia. Tercatat utang luar negeri swasta mencapai US$ 162,8 miliar atau sekitar 55,7 persen dari total utang luar negeri. Sedangkan utang luar negeri sektor publik sebesar US$ 129,7 miliar atau sekitar 44,3 persen dari total utang luar negeri.

Posisi utang luar negeri sektor swasta naik 1,3 persen dibandingkan dengan posisi akhir kuartal sebelumnya sejalan dengan utang luar negeri swasta yang meningkat dalam bentuk pinjaman luar negeri.

Di sektor swasta, utang luar negeri pada akhir kuartal IV 2014 terutama berpusat pada sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, listrik, gas dan air bersih. Posisi utang luar negeri keempat sektor itu masing-masing sebesar US$ 47,5 miliar (29,2 persen dari total utang luar negeri swasta), US$ 32,6 miliar (20 persen dari total utang luar negeri swasta), US$ 26,5 miliar (16,3 persen dari total utang luar negeri swasta), dan US$ 18,5 milair (11,4 persen) dari total utang luar negeri swasta).

Selain itu, berdasarkan jangka waktu, posisi utang luar negeri Indonesia masih didominasi oleh utang luar negeri jangka panjang (83,7 persen dari total utang luar negeri).

Bank Indonesia memandang perkembanga utang luar negeri masih cukup sehat, namun perlu terus diwaspadai risikonya terhadap ekonomi. Ke depan, BI akan tetap memantau perkembangan utang luar negeri terutama sektor swasta. Hal ini dimaksudkan agar utang luar negeri berperan secara optimal dalam mendukung pembiayaan pembangunan tanpa menimbulkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas makro ekonomi.




SUMBER :

Pemerintah Diminta Kaji Ulang Kebijakan Pajak Deposito



Pemerintah Diminta Kaji Ulang Kebijakan Pajak Deposito

Pengusaha menilai kebijakan Direktorat Jenderal/Ditjen Pajak Kementerian Keuangan terkait penyerahan data bukti potong Surat Pemberitahuan(STP) Pajak Penghasilan (PPh) pemilik deposito atau deposan akan membuat para pemilik deposito mencabut dananya dari perbankan di Indonesia.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Suryo Bambang Sulisto mengatakan, dirinya memahami kebijakan yang dikeluarkan oleh Ditjen Pajak ini guna menggenjot penerimaan pajak.

"Intinya pemerintah menginginkan kenaikan pendapatan negara dari pajak. Jadi yang kami lihat sekarang ini adalah upaya keras untuk mencari peluang-peluang baru, apa yang bisa dipajaki dan apa yang bisa ditingkatkan," ujar Suryo kepada Liputan6.com di Jakarta, seperti ditulis Kamis (19/2/2015).

Menurut dia, Ditjen Pajak boleh saja mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mencapai penerimaan pajak. Namun, kebijakan tersebut seharusnya bukan malah membuat iklim usaha menjadi tidak baik.

"Itu sah-sah saja dan harus kami dukung. Namun, perlu diingat jangan sampai upaya itu berdampak negatif dan counter produktif. Jangan sampai bisa merusak ikim usaha dan kepercayaan terhadap perekonomian yang bisa membuat orang tidak mau berbisnis di sini," lanjut dia.

Suryo mengkhawatirkan, kebijakan baru ini akan membuat dunia usaha menarik modalnya dari perbankan di Indonesia dan memilih untuk menempatkan di perbankan negara lain.

"Nah, kebijakan pemungutan pajak deposito menurut saya rawan terhadap capital flight," kata Suryo.

Oleh sebab itu, Suryo meminta agar pemerintah untuk mempertimbangkan kembali kebijakan penyerahan data bukti potong STP PPh para deposan. Jangan sampai penerapan kebijakan ini malah mengurangi kepercayaan pemilik modal terhadap sistem perpajakan di Indonesia.

"Ini harus dipertimbangkan. Jangan sampai merusak kepercayaan sehingga berakibat negatif dan tujuan yang kita inginkan sia-sia," tandas Suryo.




SUMBER :

Barang dan Jasa yang tidak dikenakan PPN



BARANG DAN JASA YANG TIDAK DIKENAI PPN

Pada dasarnya semua barang dan jasa merupakan Barang Kena Pajak dan Jasa Kena Pajak, sehingga dikenai Pajak Pertambahan Nilai (PPN), kecuali jenis barang dan jenis jasa sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 4A Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009.

A.    JENIS BARANG YANG TIDAK DIKENAI PPN

1.      Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya meliputi :
a.       minyak mentah (crude oil)
b.      gas bumi, tidak termasuk gas bumi seperti elpiji yang siap dikonsumsi langsung oleh masyarakat
c.       panas bumi
d.      asbes, batu tulis, batu setengah permata, batu kapur, batu apung, batu permata, bentonit, dolomit, felspar (feldspar), garam batu (halite), grafit, granit/andesit, gips, kalsit, kaolin, leusit, magnesit, mika, marmer, nitrat, opsidien, oker, pasir dan kerikil, pasir kuarsa, perlit, fosfat (phospat), talk, tanah serap (fullers earth), tanah diatome, tanah liat, tawas (alum), tras, yarosif,  zeolit, basal, dan trakkit
e.       batu bara sebelum diproses menjadi briket batu bara; dan
f.       bijih besi, bijih timah, bijih emas, bijih tembaga, bijih nikel, bijih perak, serta bijih bauksit.

2.      Barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak meliputi:
a.       beras
b.      gabah
c.       jagung
d.      sagu
e.       kedelai
f.       garam, baik yang beryodium maupun yang tidak beryodium
g.      daging, yaitu daging segar yang tanpa diolah, tetapi telah melalui proses disembelih, dikuliti, dipotong, didinginkan, dibekukan, dikemas atau tidak dikemas, digarami, dikapur, diasamkan, diawetkan dengan cara lain, dan atau  direbus
h.      telur, yaitu telur yang tidak diolah, termasuk telur yang dibersihkan, diasinkan, atau dikemas;
i.        susu, yaitu susu perah baik yang telah melalui proses didinginkan maupun dipanaskan, tidak mengandung tambahan gula atau bahan lainnya, dan/atau dikemas atau tidak dikemas;
j.        buah-buahan, yaitu buah-buahan segar yang dipetik, baik yang telah melalui proses cuci, disortasi, dikupas, dipotong, diiris, di-grading, dan/atau dikemas atau tidak dikemas; dan
k.      sayur-sayuran, yaitu sayuran segar yang dipetik, dicuci, ditiriskan, dan/atau disimpan pada suhu rendah, termasuk sayuran segar yang dicacah.



3.      Makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan, warung, dan sejenisnya, meliputi makanan dan minuman baik yang dikonsumsi di tempat maupun tidak, termasuk makanan dan minuman yang diserahkan oleh usaha jasa boga atau katering.
4.      Uang, emas batangan, dan surat berharga.

B.     JENIS JASA YANG TIDAK DIKENAI PPN

1.      Jasa pelayanan kesehatan medis, meliputi :
a.       jasa dokter umum, dokter spesialis, dan dokter gigi
b.      jasa dokter hewan
c.       jasa ahli kesehatan seperti akupuntur, ahli gigi, ahli gizi, dan ahli fisioterapi
d.      jasa kebidanan dan dukun bayi
e.       jasa paramedis dan perawat
f.       jasa rumah sakit, rumah bersalin, klinik kesehatan, laboratorium kesehatan, dan sanatorium
g.      jasa psikolog dan psikiater dan
h.      jasa pengobatan alternatif, termasuk yang dilakukan oleh paranormal

2.      Jasa pelayanan sosial meliputi:
a.       jasa pelayanan panti asuhan dan panti jompo
b.      jasa pemadam kebakaran
c.       jasa pemberian pertolongan pada kecelakaan
d.      jasa lembaga rehabilitasi;
e.       jasa penyediaan rumah duka atau jasa pemakaman, termasuk krematorium dan
f.       jasa di bidang olah raga kecuali yang bersifat komersial.

3.      Jasa pengiriman surat dengan perangko, meliputi jasa pengiriman surat dengan menggunakan perangko tempel dan menggunakan cara lain pengganti perangko tempel.

4.      Jasa keuangan, meliputi:

a.       jasa menghimpun dana dari masyarakat berupa giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan, dan/atau bentuk lain yang dipersamakan dengan itu
b.      jasa menempatkan dana, meminjam dana, atau meminjamkan dana kepada pihak lain dengan menggunakan surat, sarana telekomunikasi maupun dengan wesel unjuk, cek, atau sarana lainnya
c.       jasa pembiayaan, termasuk pembiayaan berdasarkan prinsip syariah, berupa:
·   sewa guna usaha dengan hak opsi
·   anjak piutang
·   usaha kartu kredit dan/atau
·   pembiayaan konsumen
d.      jasa penyaluran pinjaman atas dasar hukum gadai, termasuk gadai syariah dan fidusia
e.       jasa penjaminan.

5.      Jasa asuransi, merupakan jasa pertanggungan yang meliputi asuransi kerugian, asuransi jiwa, dan reasuransi yang dilakukan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis asuransi, tidak termasuk jasa penunjang asuransi seperti agen asuransi, penilai kerugian asuransi, dan konsultan asuransi.

6.      Jasa keagamaan, meliputi :
a.       jasa pelayanan rumah ibadah
b.      jasa pemberian khotbah atau dakwah
c.       jasa penyelenggaraan kegiatan keagamaan; dan
d.      jasa lainnya di bidang keagamaan.

7.      Jasa pendidikan, meliputi :
·         jasa penyelenggaraan pendidikan sekolah, seperti jasa penyelenggaraan pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan luar biasa, pendidikan kedinasan, pendidikan keagamaan, pendidikan akademik dan jasa penyelenggaraan pendidikan luar sekolah.

8.      Jasa kesenian dan hiburan, meliputi semua jenis jasa yang dilakukan oleh pekerja seni dan hiburan.

9.      Jasa penyiaran yang tidak bersifat iklan meliputi jasa penyiaran radio atau televisi baik yang dilakukan oleh instansi pemerintah atau swasta yang tidak bersifat iklan dan tidak dibiayai oleh sponsor yang bertujuan komersial.

10.  Jasa angkutan umum di darat dan di air serta jasa angkutan udara dalam negeri yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari jasa angkutan udara luar negeri.

11.  Jasa tenaga kerja, meliputi :
a.       jasa tenaga kerja
b.      jasa penyediaan tenaga kerja sepanjang pengusaha penyedia tenaga kerja tidak bertanggung jawab atas hasil kerja dari tenaga kerja tersebut dan
c.       jasa penyelenggaraan latihan bagi tenaga kerja.

12.  Jasa perhotelan, meliputi :
a.       jasa penyewaan kamar, termasuk tambahannya di hotel, rumah penginapan, motel, losmen, hostel, serta fasilitas yang terkait dengan kegiatan perhotelan untuk tamu yang menginap; dan
b.      jasa penyewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan di hotel, rumah penginapan, motel, losmen dan hostel.


13.  Jasa yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka menjalankan pemerintahan secara umum, meliputi jenis-jenis jasa yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah seperti pemberian Izin Mendirikan Bangunan (IMB), pemberian Ijin Usaha Perdagangan, pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak dan pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP).

14.  Jasa penyediaan tempat parkir yang dilakukan oleh pemilik tempat parkir dan atau pengusaha kepada pengguna tempat parkir dengan dipungut bayaran.

15.  Jasa telepon umum dengan menggunakan uang logam atau koin yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta.

16.  Jasa pengiriman uang dengan wesel pos.

17.  Jasa boga atau catering.





SUMBER :