Wednesday, December 30, 2015

Tentang Good Corporate Governance

Good Corporate Governance(Tata Kelola Perusahaan yang Baik) merupakan prinsip-prinsip yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan agar mencapai keseimbangan antara kekuatan serta kewenangan perusahaan dalam memberikan pertanggung-jawabannya kepada stakeholders. Prinsip-prinsip tersebut dijadikan sebagai perangkat standar yang bertujuan untuk memperbaiki citra, efisiensi, efektifitas dan tanggung-jawab sosial perusahaan. Perangkat tersebut dapat menyelaraskan kepentingan prinsipal dan agen melalui supervisi, monitoring dan mekanisme pengendalian keputusan dan kinerja perusahaan.

Prinsip-prinsip GCG adalah transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi dan fairness.

1. Transparansi adalah keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan, dan keterbukaan dalam mengemukakan informasi materiil dan relevan mengenai perusahaan.


2. Akuntabilitas adalah kejelasan fungsi, pelaksanaan dan pertanggung-jawaban organ sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif.


3. Responsibilitas adalah kesesuaian dalam pengelolaan perusahaan terhadap per-uu dimana perusahaan dikelola secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan per-uu yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat.


4. Independensi adalah suatu keadaan dimana perusahaan dikelola secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan per-uu yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat.


5. Fairness adalah keadilan dan kesetaraan dalam memenuhi hak-hak stakeholders yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan per-uu yang berlaku.


GCG saat ini merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri BUMN No. KEP-117/M-MBU/2002 tentang Penerapan Praktek GCG di BUMN.


Tujuan Penerapan GCG di BUMN adalah:
l Memaksimalkan nilai perusahaan dengan cara meningkatkan prinsip keterbukaan, akuntabilitas, dapat dipercaya, bertanggung-jawab dan adil agar perusahaan memiliki daya saing yang kuat baik secara nasional maupun internasional.
l Mendorong pengelolaan perusahaan secara profesional, transparan dan efisien,serta memberdayakan fungsi dan meningkatkan kemandirian Komisaris, Direksi, dan Pemegang saham.
l Mendorong agar Pemegang Saham, Komisaris,Direksi dalam membuat keputusan dan menjalankan tindakan dilandasi nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap per-uu yang berlaku serta kesadaran akan adanya tanggung-jawab sosial perusahaan terhadap stakeholders maupun kelestarian lingkungan
l Meningkatkan kontribusi perusahaan dalam perekonomian nasional.
l Meningkatkan iklim investasi nasional.
l Mensukseskan program privatisasi.




Sumber : http://www.inti.co.id/index.php/en/who-we-are/gcg

Monday, November 16, 2015

Perbedaan antara PSAK no. 1 tahun 2013 dan 2009

Perbedaan antara PSAK No. 1 Tahun 2013 dengan PSAK No. 1 Tahun 2009

Terdapat perubahan antara PSAK No. 1 Tahun 2013 dengan PSAK No. 1 Tahun 2009. Perubahan tersebut didasarkan atas:

  1. Perbaikan dengan penggunaan istilah yang lebih tepat
  2. Pengaruh perkembangan PSAK lain yang belum dikeluarkan tahun 2009
  3. Mengikuti perubahan terakhir IAS 1 Tahun 2010 yaitu pemisahaan penghasilan komprehensif lain dan penyajian informasi komparatif
  4. Sikronisasi dengan IAS terkait format
  5. Pendekatan penyajian standar dengan revisi – tidak menyajikan ulang semua standar
  6. Efektif berlaku 1 Januari 2015, tidak ada penerapan dini
  7. Terdapat perbedaan IAS 1 dengan PSAK 1.


Berikut beberapa perubahan yang terjadi dalam hal judul laporan, definisi, komponen laporan keuangan, informasi komparatif dan penyajian penghasilan komprehensif lain:


Hal
PSAK 1 2013
PASAK 1 2009
Judul Laporan
Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain
Laporan Laba Rugi Komprehensif
Definisi
Tidak memberikan definisi:-Laba Rugi-Pemilik-Penyesuaian ReklasifikasiTotal Laba Rugi Komprehensif
Memberikan definisi:-Laba Rugi-Pemilik-Penyesuaian ReklasifikasiTotal Laba Rugi Komprehensif
Komponen Laporan Keuangan
-Laporan posisi keuangan-Lapoean laba rugi dan penghasilan komprehensif lain-Laporan perubahan ekuitas-Laporan arus kas-Catatan atas laporan keuangan-Informasi komparatif
-Laporan posisi keuangan-Laporan laba rugi komprehensif-Laporan perubahan ekuitas-Laporan arus kas-Catatan atas laporan keuangan
Informasi Komparatif
-Informasi komparatif minimum-Informasi komparatif tambahan
Tidak terdapat pengaturan
Penyajian Penghasilan Komprehensif Lain
Disajikan berdasarkan kelompok:1. Pos-pos yang akan direklasifikasikan ke laba rugi2. Pos-pos yang tidak akan direklasifikasikan ke laba rugi
Disajikan dalam kelompok Penghasilan komprehensif lain

Perubahan PSAK 1 Tahun 2013

  1. Judul Laporan Pendapatan Komprehensif Lain menjadi Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif lain.
  2. Format laporan disesuaikan dengan format yang digunakan oleh IASB
  3. Penyajian laporan dalam dua bagian: Laba Rugi dan Penghasilan

Komprehensif Lain.

Pemisahan penghasilan komprehensif yang akan direklasifikasikan ke laporan laba rugi periode berikutnya setelah penghentian pengakuan dengan OCI (misal surplus revaluasi aset) yang tidak akan direklasifikasi ke laporan laba rugi.

Pemisahan pajak penghasilan atas pos yang disajikan dalam OCI yang akan direklasifikasikan ke laporan laba rugi dan yang tidak direklasifikasi ke dalam laporan laba rugi.

Sinkronisasi dengan terbitnya PSAK lain – PSAK 65 Konsolidasian, PSAK 4 Laporan Keuangan Tersendiri.

Perubahan PSAK 1 Tahun 2009:

  1. Nama menjadi Laporan Posisi Keuangan (Neraca), tambahan neraca untuk sinkronisasi dengan regulasi di Indonesia.

  1. Perubahan definisi-definisi seperti Kewajiban menjadi Liabilitas dan hak minoritas menjadi kepentingan non pengendali (non-controlling interest).

  1. Penyajian kepentingan non pengendali sebagai bagian ekuitas dan bagian laba bukan sebagai pengurang labaà LK konsolidasian.

  1. Laporan keuangan awal periode (dr periode sajian) untuk penyajian retroaktif à perubahan kebijakan dan koreksi kesalahan.

  1. Minimum line item Penyajian Neraca àProperti Investasi, Investasi dengan menggunakan metode ekuitas, Aset yang dimiliki untuk dijual, Pajak tangguhan, Pajak kini, dll.

  1. Urutan penyajian laporan keuangan dalam ilustrasi menurut PSAK 1 berbeda dengan IAS 1 (Aset tidak lancar di atas).

  1. Laporan Laba rugi à Laporan Laba Rugi Komprehensif.

  1. Penyajian laporan laba rugi dengan memasukkan unsur laba komprehensif

  1. Laba dialokasikan untuk pemegang saham minoritas dan mayoritas

  1. Ketentuan minimum item dalam laporan laba rugi àPendapatan, Biaya keuangan, Beban pajak, pendapatan investasi asosiasi, Pendapatan komprehensif, dll

  1. Klasifikasi beban berdasarkan fungsi dan sifat, jika disajikan berdasarkan fungsi ada pengungkapan berdasarkan sifat

  1. Penyajian “pos luar biasa / extraordinary item” tidak diperkenankan lagi.

  1. Penyajian laba rugi komprehensif dengan digabung atau dalam bentuk dua laporan



PSAK 1 Tahun 2013

Penyajian Laporan Keuangan

Entitas dapat menyajikan laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain dengan dua metode:

  • Laporan tunggal à Bagian tersebut disajikan bersama, dengan bagian laba rugi disajikan pertama kali mengikuti secara langsung dengan bagian penghasilan komprehensif lain.
  • Laporan terpisah àlaporan laba rugi mendahului laporan yang menyajikan penghasilan komprehensif. Laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain akan akan dimulai dengan laba rugi.

Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain

  1. Penghasilan komprehensif lain: Perubahan aset atau liabilitas yang tidak mempengaruhi laba pada periodeberjalan
·         Selisih revaluasi aset tetap
·         Perubahan nilai investasi available for sales
·         Dampak translasi laporan keuangan
  1. Penyajian dengan cara tunggal atau penyajian dengan dua laporan
  2. Dalam dua laporan :
·         Laporan laba rugi (tanpa penghasilan komprehensif lain)
·         Laporan laba komprehensif dimulai dari laba/rugi bersih


Informasi dalam Bagian Penghasilan Komprehensif Lain

Bagian penghasilan komprehensif lain menyajikan pos-pos untuk jumlah penghasilan komprehensif lain dalam periode berjalan, diklasifikasikan berdasarkan sifat (termasuk bagian penghasilan komprehensif lain dari entitas asosiasi dan ventura bersama yang dicatat menggunakan metode ekuitas) dan dikelompokkan, sesuai dengan PSAK/ISAK lainnya:
  1. tidak akan direklasifikasi lebih lanjut ke laba rugi; dan

  1. tidak akan direklasifikasi lebih lanjut ke laba rugi ketika kondisi tertentu terpenuhi.

Minimum Line Item – Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif

  1. pendapatan;
  2. biaya keuangan;
  3. bagian laba rugi dari entitas asosiasi dan joint
  4. ventures yang dicatat dengan menggunakan metode ekuitas;
  5. beban pajak;
  6. suatu jumlah tunggal yang mencakup total dari:
·         laba rugi setelah pajak dari operasi yang dihentikan; dan
·         keuntungan atau kerugian setelah pajak yang diakui dengan pengukuran nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual atau dari pelepasan aset atau kelompok yang dilepaskan dalam rangka operasi yang dihentikan;
  1. laba rugi;
  2. setiap komponen dari pendapatan komprehensif lain yang diklasifikasikan sesuai dengan sifat (selain jumlah dalam huruf (h));
  3. bagian pendapatan komprehensif lain dari entitas asosiasi dan joint ventures yang dicatat dengan menggunakan metode ekuitas;
  4. Ketika pos-pos pendapatan atau beban bernilai material, maka entitas mengungkapkan sifat dan jumlahnya secara terpisah. Penyebab pengungkapan terpisah:
·         penurunan nilai persediaan /aset tetap dan pemulihannya
·         restrukturisasi atas aktivitas-aktivitas suatu entitas dan untuk setiap liabilitas diestimasi atas biaya restrukturisasi;
·         pelepasan aset tetap;
·         pelepasan investasi;
·         operasi yang dihentikan;
·         penyelesaian litigasi; dan
·         pembalikan liabilitas diestimasi lain.
  1. Entitas menyajikan analisis beban yang diakui dalam laba rugi dengan menggunakan klasifikasi berdasarkan sifat atau fungsinya dalam entitas, mana yang dapat menyediakan informasi yang lebih andal dan relevan.


sumber :
http://accounting.binus.ac.id/2014/07/11/perbedaan-antara-psak-no-1-tahun-2013-degnan-psak-no-1-tahun-2009/

Kasus bubarnya Arthur Andersen dan sejarah Big Four

Ulasan kasus bubarnya Arthur Andersen

Peringkat kantor akuntan internasional terbesar kehilangan salah satu anggota setelah kantor Arthur Andersen ditutup karena didakwa menghalangipenyelidikan pengadilan dalam kasus Enron. Kantor terkemuka ini pernah mnjadi kantor akuntan publik terbesar yang akibat dari keberhasilam praktik konsultasinya.

Perusahaan ini berdiri pada tahun 1913, nama Arthur Andersen diambil dari nama seorang profesor di Northwestern University yang mendirikan perusahaan tersebut. Kantor ini pernah menikmati reputasi sebagai penjunjung standar etika tertinggi tetapi kemudian terlibat dalam beberapa dugaan kegagalan audit selain Enron.

Enron Corporation terbentuk pada tahun 1985 dari merger antara dua perusahaan saluran pipa gas yaitu Houston Natural Gas dan InterNorth yang berkedudukan di Omaha, Nebraska, Amerika Serikat. Dan merupakan pelopor pipa gas alam serta listrik dalam pasar utilitas yang baru diregulasi. Enron tumbuh menjadi salah satu dari tujuh perusahaan besar di Amerika Serikat yang memiliki pasukan sebanyak 21.000 pekerja sebagai staf di lebih dari empat puluh negara di dunia. Enron merupakan perusahaan energi pertama di Amerika Serikat yang melakukan instalasi sistem pipa gas alam. Pada tahun-tahun awalnya, Enron menghasilkan uang dari penjualan aktiva tetap seperti saluran pipa. Namun, pada tahun 1990-an, 80% laba Enron berasal dari bisnis yang lebih populer yang dikenal sebagai "Grosir Operasi dan Jasa Energi". Enron telah membangun pasar baru, seperti perdagangan sekuritas cuaca.

Namun keberhasilan dan nama harum tidaklah selamanya mereka kecap. Kesuksesan yang dirintis dan dipelihara sekian lama, telah beralih menjadi suatu bencana skandal yang rumit. Pada awal tahun 2001, spekulasi tentang transaksi bisnis enron mulai muncul ke permukaan. Seorang bankir investasi yang sangat disegani secara umum menyatakan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat menjelaskan bagaimana sebenarnya Enron mendapatkan uang. Dengan terkuaknya keruntuhan ini, banyak pihak yang bertanya-tanya bagaimana isu tersebut bisa tidak terdeteksi setelah sekian lama. Banyak yang menunjuk pada struktur bisnis yang luar biasa rumit di Enron dan laporan keuangan yang samar serta membingungkan.

Bencana ini dimulai dari ketidakjujuran Enron dalam penyajian laba dan lembaga ini harus berdiri tegak menghadapi setumpuk tuduhan berkaitan dengan transaksi yang penuh kecurangan. Termasuk di antarana adalah tidak tersajinya sejumlah kewajiban dalam rekening perusahaan yang sedemikian rupa mereka tutup-tutupi. Tampaknya skandal Enron ini juga telah membodohi para auditor. Karena kecurangan ini melibatkan perusahaan terpercaya di AS yang merupakan salah satu dari lima firma akuntansi terbesar yang telah berdiri selama 89 tahun yaitu Arthur Andersen.

Kesalahan yang dilakukan Arthur Andersen adalah kekeliruanya yang membiarkan Enron mempertahankan Entitas terkait secara terpisah padahal seharusnya dikonsolidasi. Lalu, Auditor kepala Andersen untuk Enron yaitu David Duncan menghalangi proses peradilan melalui penghancuran ribuan dokumen-dokumen dan data-data komputer yang berkaitan dengan kegagalan Enron. Akhirnya Andersen memecat David Duncan, namun dengan bersikukuh bahwa firmanya tidak melakukan hal yang tidak sepantasnya dilakukan dan tidak dapat menemukan indikasi adanya kecurangan.

Pada bulan Juni 2002, divisi Amerika menyatakan bahwa Andersen terbukti bersalah oleh pengadilan federal dalam menghalangi penegakan hukum. Andersen mengakui bahwa firmanya bersalah karena menganggap penghancuran dokumen-dokumen tersebut merupakan kegiatan rutin yang sudah sangat sering mereka lakukan. Akhirnya, Andersen menutup Firma Akuntan Publiknya di Amerika Serikat sebagai hukuman.

Beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari bencara Enron-Andersen adalah pentingnya memiliki kesadaran dan ketaatan akan tanggung jawab auditor, Etika Profesi, Kesadaran Etik, Komitmen profesi, dan Good Corporate Governance bagi para auditor individu maupun lembaga. Tidak hanya itu pentingnya memahami bisnis dan industri perusahaan untuk mengidentifikasi risiko bisnis yang signifikan, salah saji material dalam laporan keuangan haruslah digarisbawahi oleh para auditor agar dapat membuat para klien dan calon klien semakin percaya kepada kinerja para profesional akuntan publik.


Sejarah Big Four

The Big Four  adalah kelompok empat firma jasa profesional dan akuntansi internasional terbesar, yang menangani mayoritas pekerjaan audit untuk perusahaan publik maupun perusahaan tertutup. Firma Empat Besar adalah sebagai berikut:
1.      Deloitte Touche Tohmatsu, yang berkantor pusat di Amerika Serikat.
2.      PricewaterhouseCoopers, yang berkantor pusat di Britania Raya.
3.      Ernst & Young, yang berkantor pusat di Britania Raya.
4.      KPMG, yang berkantor pusat di Belanda

8 Besar KAP Yang Mengerucut Menjadi 4 besar.

Kelompok ini sempat dikenal sebagai "Delapan Besar", dan berkurang menjadi "Lima Besar" melalui serangkaian kegiatan merger. Lima Besar menjadi Empat Besar setelah keruntuhan Arthur Andersen pada 2002, karena keterlibatannya dalam Skandal Enron.

Selama bertahun-tahun, ada delapan kantor akuntan besar yang disebut sebagai Delapan Besar. Dalam tahun 1979, yaitu :

  1. Arthur Andersen
  2. Arthur Young & Co
  3. Coopers & Lybrand (aslinya Lybrand, Ross Bros, & Montgomery)
  4. Ernst & Whinney (hingga 1979 Ernst & Ernts di AS dan Whinney Muray di Britania Raya)
  5. Deloitte Hanskins & Sells (hingga 1978 Hanskins & Sells di AS dan Deloitte & Co di Britania Raya)
  6. Peat Marwick Mitchell (selanjutnya menjadi Peat Marwick kemudian KPMG)
  7. Price Waterhouse
  8. Touche Ross

Pada tahun 1989-1998, Delapan Besar ini menjadi Enam Besar setelah terjadi merger antara Deloitte, Hanskins and Sells, serta Touche Ross untuk membentuk Deloitte & Touche, dan merger antara Ernst & Whinney dan Arthur Young untuk membentuk Ernst & Young.

Pada tahun 1998-2002, peringkat kantor-kantor terbesar itu menyusut lagi menjadi Lima Besar  ketika Price Waterhouse dan Coopers & Lybrand bergabung untuk membentuk PriceWaterhouseCoopers.

Pada tahun 2002, Arthur Andersen bangkrut karena terlibat skandal Enron Co. Kantor-kantor koleganya yang berada dibawah bendera Arthur Andersen seluruhnya dijual dan kebanyakan menjadi anggota kantor akuntan internasional lainnya. Tutupnya Andersen kemudian sekarang menyisakan Empat Besar kantor akuntan internasional, yaitu :

  1. Deloitte & Touche
  2. Ernst & Young
  3. PricewaterhouseCoopers
  4. KPMG

Sumber :
Alvin A. Arens, Randal J. Elder, Mark S. Beasley, Auditing dan Jasa Assurance Jilid 1 Edisi Keduabelas (Jakarta:Penerbit Erlangga, 2008), hlm.33, 34, 38, 115.

Jurnal Akuntansi Dan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Widyata, Vol 4 No.1, 2002. hal 10, 11, 14, 15.

Kerangka Konseptual Akuntansi dan istilah laporan keuangan PSAK no.1

KERANGKA KONSEPTUAL AKUNTANSI

Kerangka Konseptual Akuntansi berfungsi sebagai dasar untuk memecahkan masalah-masalah akuntansi dan pelaporan. Kerangka ini dibuat oleh FASB (Dewan Standar Akuntansi Keuangan), FASB menghabiskan banyak waktu dan tenaga pada proyek ini. Dewan melihat kerangka konseptual sebagai " konstitusi, sebuah sistem yang menyatu antara tujuan dan dasar yang saling berkaitan."

Sumber : Accounting Principles (Wiley) hal.58

Level 1 : Tujuan-tujuan Pelaporan Keuangan

FASB mulai bekerja dengan kerangka konseptual dengan melihat pada tujuan-tujuan dasar dari pelaporan keuangan. Untuk menentukan tujuan-tujuan ini memerlukan jawaban atas beberapa pertanyaan dasar yang kemudian disimpulkan oleh FASB bahwa tujuan dari pelaporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi yang :
Berguna bagi mereka yang membuat keputusan investasi dan kredit.
Membantu dalam memperkirakan arus kas di masa depan.
Mengidentifikasi sumber daya ekonomis (aset), klaim atas sumber daya tersebut (kewajiban), serta perubahan dari sumber daya dan klaim tersebut.
Kemudian FASB berusaha untuk menggambarkan karakteristik-karakteristik yang membuat informasi akuntansi berguna.

Level 2 : Karakteristik-karakteristik Kualitatif Informasi Akuntansi

Praktik akuntansi yang dipilih seharusnya adalah praktik yang memberikan informasi keuangan  berguna paling banyak untuk membuat sebuah keputusan. Untuk menjadi berguna, informasi harus memiliki karakteristik-karakteristik kualitatif berikut :

Relevansi (Relevanve)
Informasi akuntansi harus relevan, jika dapat membuat perbedaan dalam sebuah keputusan. Informasi yang relevan memiliki nilai prediktif (predictive value)/nilai umpan balik maupun keduanya. Nilai prediktif (predictive value) yang dapat membantu pengguna meramalkan kejadian-kejadian di masa depan, sedangkan nilai umpan balik (feedback value) mampu menguatkan atau memperbaiki ekspetasi sebelumnya. Selain itu, informasi akuntansi memiliki relevansi jika dianggap tepat waktu (timely) artinya informasi tersebut harus tersedia bagi pembuat keputusan sebelum ia kehilangan kemampuannya untuk mempengaruhi keputusan.

Dapat Diandalkan (Reliability)
Keandalan atau reliabilitas informasi berarti informasi itu terbebas dari kesalahan dan bias. Agar dapat diandalkan, informasi akuntansi harus dapat diverifikasi atau dapat membuktikan bahwa informasi tersebut terbebas dari kesalahan dan bias. Lalu, merupakan penyajian yang jujur atas apa yang seharusnya: Informasi ersebut harus berdasarkan fakta yang ada. Terakhir, informasi harus netral artinya informasi tersebut tidak boleh dipilih, dibuat, atau disajikan sesuai keinginan sekelompok pengguna yang berkepentingan diatas yang lainnya.

Dapat Dibandingkan (Comparability)
Informasi akuntansi tentang perusahaan berguna ketika dapat dibandingkan dengan informasi keuangan tentang perusahaan lainnya. Perbandingan/komparabilitas dihasilkan ketika perusahaan-perusahaan yang berbeda menggunakan prinsip-prinsip akuntansi yang sama. Satu-satunya kebutuhan akuntansi adalah setiap perusahaan harus mengungkapkan metode-metode akuntansi yan digunakan. Dari pengungkapan tersebut, pengguna dapat menentukan apakah informasi keuangan dapat dibandingkan.

Konsistensi (Consistency)
Berarti sebuah perusahaan menggunakan prinsip-prinsip dan metode-metode akuntansi yang sama dari tahun ke tahun. Jika suatu perusahaan memilih metode FIFO sebagai metode biaya persediaan pada tahun pertama beroperasi, maka diharapkan perusahaan akan menggunakan metode FIFO pada tahun-tahun berikutnya.

Elemen-elemen Laporan Keuangan

Bagian yang penting dari kerangka konseptual akuntansi adalah seperangkat definisi yang menggambarkan istilah-istilah dasar yang digunakan dalam akuntansi. FASB mengacu pada seperangkat definisi ini sebagai elemen-elemen laporan keuangan (elements of financial statement). Elemen-elemen ini mencakup beberapa istilah seperti aset, kewajiban, ekuitas, pendapatan, dan beban. Oleh karena itu, elemen-elemen ini sangat penting karena harus dibatasi dengan tepat dan diterapkan secara Universal.

Level 3 : Panduan-panduan Pengoperasian
        
Para akuntan yang berpraktik harus memecahkan maslah-masalah praktikna, dibutuhkan bantuan yang lebih rinci. Pada kerangkaa konseptual, FASB mengakui kebutuhan akan panduan pengoperasikan yang dikelompokkan menjadi tiga panduan yang telah dibuat dengan baik dan diterima dalam akuntansi, yaitu :
Asumsi (assumption), merupakan dasar dari proses akuntansi.
Prinsip (principle), merupakan aturan khusus yang mengindikasikan bagaimana kejadian-kejadian ekonomi harus dilaporkan dalam proses akuntansi.
Kendala (constraint), merupakan proses akuntansi yang memungkinkan penyimpangan prinsip-prinsip tersebut di bawah kondisi-kondisi tertentu.

Sumber : Accounting Principles (Wiley) hal.61


Istilah laporan keuangan dalam PSAK No 1?
     
      Menurut PSAK No. 1, laporan keuangan yang lengkap terdiri dari laporan posisi keuangan, laporan laba rugi komprehensif, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas,catatan atas laporan keuangan, dan laporan posisi keuangan pada awal periode. Laporankeuangan bermanfaat dalam pengambilan keputusan untuk menjamin para pemakailaporan keuangan bahwa laporan keuangan tersebut telah disusun sesuai dengan standarakuntansi keuangan. Para pemakai laporan keuangan tersebut meliputi investor,karyawan, pemberi pinjaman, pemasok dan kreditor usaha lainnya, pelanggan, pemerintah dan masyarakat.Tujuan PSAK No. 1 adalah untuk memastikan penyajianinformasi yangdapatdi perbandingkan dengan menyajikan laporan keuangan entitas periode sebelumnya dandengan menyajikan laporan keuangan entitas lainnya. Laporan keuangan disusun berdasarkan atas kelangsungan hidup usaha, jika manajemen tidak bermaksud untukmelikuidasi atau menghentikan perdagangan. Suatu entitas menyusun laporankeuangannya, kecuali untuk informasi arus kas.

Laporan Posisi Keuangan / Neraca
      Laporan posisi keuangan atau neraca adalah suatu daftar yang menunjukan posisi keuangan, yaitu komposisi dan jumlah asset, liabilitas, dan ekuitas darisuatu entitas tertentu pada suatu tanggal tertentu. Entitas biasanya menyajikanlaporan posisi keuangan dengan memisahkan asset lancer dan liabilitas lancerdari asset tidak lancer dan liabilitas tidak lancar.

1.     Laporan Laba-Rugi Komprehensif
    PSAK No. 1 memperkenalkan laporan laba rugi komprehensif yaitu laporanyang memberikan informasi mengenai kinerja entitas yang menimbulkan perubahan pada jumlah ekuitas entitas yang bukan berasal daritransaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik, misalnya setoran modal atau pembagian dividen laba rugi komprehensif tediri atas :
  1. Laba Rugi.
  2. Pendapatan Komprehensif Lain.

2.     Laporan Perubahan Ekuitas
          Untuk suatu entitas usaha berbentuk badan hokum perseroan terbatas (PT), laba yang ditahan dan tidak dibagikan sebagai dividen disajikan dalam neraca sebagai bagian dari ekuitas.

3.     Laporan Arus Kas
          Infomasi kas dan setara kas serta arus penerimaan dan pengunaan dana kas dan setara kas adalah informasi yang sangat penting dan penggunaan dana kas dan setara kas adalah informasi yang sangat penting dan berguna untuk di laporkankepada pada pemangku kepentingan. Penyusunan arus kas dapat dilakukan berdasarkan metode langsung maupun metode tidak langsung.

4.     Catatan atas Laporan Keuangan
          Menurut PSAK No. 1 catatan atas laporan keuangan berisi informasi tambahan atas apa yang disajikan dalam laporan posisi keuangan, laporan pendapatan komprehensif, laporan laba rugi terpisah, laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas. Catatan atas laporan keuangan memberikan penjelasan naratif atau rincian dari pos-pos yang disajikan dalam laporan keuangan tersebut dan informasi mengenai pos-pos yang tidak memenuh criteria pengakuan dalam laporan keuangan.



Sumber: 
https://www.academia.edu/8850416/PENERAPAN_PSAK_No.1_dan_PSAK_No.2_pada_PT._Adhi_Karya_Persero_Tbk

Jerry J. Weygandt, Donald E. Kieso, Paul D. Kimmel, Accounting Principles Edisi 7 (Jakarta Selatan:Salemba Empat, 2013), hlm.58-61.