Ulasan kasus bubarnya Arthur Andersen
Peringkat kantor akuntan
internasional terbesar kehilangan salah satu anggota setelah kantor Arthur
Andersen ditutup karena didakwa menghalangipenyelidikan pengadilan dalam kasus
Enron. Kantor terkemuka ini pernah mnjadi kantor akuntan publik terbesar yang
akibat dari keberhasilam praktik konsultasinya.
Perusahaan ini berdiri pada
tahun 1913, nama Arthur Andersen diambil dari nama seorang profesor di
Northwestern University yang mendirikan perusahaan tersebut. Kantor ini pernah
menikmati reputasi sebagai penjunjung standar etika tertinggi tetapi kemudian
terlibat dalam beberapa dugaan kegagalan audit selain Enron.
Enron Corporation terbentuk
pada tahun 1985 dari merger antara dua perusahaan saluran pipa gas yaitu
Houston Natural Gas dan InterNorth yang berkedudukan di Omaha, Nebraska, Amerika
Serikat. Dan merupakan pelopor pipa gas alam serta listrik dalam pasar utilitas
yang baru diregulasi. Enron tumbuh menjadi salah satu dari tujuh perusahaan
besar di Amerika Serikat yang memiliki pasukan sebanyak 21.000 pekerja sebagai
staf di lebih dari empat puluh negara di dunia. Enron merupakan perusahaan
energi pertama di Amerika Serikat yang melakukan instalasi sistem pipa gas
alam. Pada tahun-tahun awalnya, Enron menghasilkan uang dari penjualan aktiva
tetap seperti saluran pipa. Namun, pada tahun 1990-an, 80% laba Enron berasal
dari bisnis yang lebih populer yang dikenal sebagai "Grosir Operasi dan
Jasa Energi". Enron telah membangun pasar baru, seperti perdagangan
sekuritas cuaca.
Namun keberhasilan dan nama
harum tidaklah selamanya mereka kecap. Kesuksesan yang dirintis dan dipelihara
sekian lama, telah beralih menjadi suatu bencana skandal yang rumit. Pada awal
tahun 2001, spekulasi tentang transaksi bisnis enron mulai muncul ke permukaan.
Seorang bankir investasi yang sangat disegani secara umum menyatakan bahwa
tidak ada seorangpun yang dapat menjelaskan bagaimana sebenarnya Enron
mendapatkan uang. Dengan terkuaknya keruntuhan ini, banyak pihak yang
bertanya-tanya bagaimana isu tersebut bisa tidak terdeteksi setelah sekian
lama. Banyak yang menunjuk pada struktur bisnis yang luar biasa rumit di Enron
dan laporan keuangan yang samar serta membingungkan.
Bencana ini dimulai dari
ketidakjujuran Enron dalam penyajian laba dan lembaga ini harus berdiri tegak
menghadapi setumpuk tuduhan berkaitan dengan transaksi yang penuh kecurangan.
Termasuk di antarana adalah tidak tersajinya sejumlah kewajiban dalam rekening
perusahaan yang sedemikian rupa mereka tutup-tutupi. Tampaknya skandal Enron
ini juga telah membodohi para auditor. Karena kecurangan ini melibatkan
perusahaan terpercaya di AS yang merupakan salah satu dari lima firma akuntansi
terbesar yang telah berdiri selama 89 tahun yaitu Arthur Andersen.
Kesalahan yang dilakukan
Arthur Andersen adalah kekeliruanya yang membiarkan Enron mempertahankan Entitas
terkait secara terpisah padahal seharusnya dikonsolidasi. Lalu, Auditor kepala
Andersen untuk Enron yaitu David Duncan menghalangi proses peradilan melalui
penghancuran ribuan dokumen-dokumen dan data-data komputer yang berkaitan
dengan kegagalan Enron. Akhirnya Andersen memecat David Duncan, namun dengan
bersikukuh bahwa firmanya tidak melakukan hal yang tidak sepantasnya dilakukan
dan tidak dapat menemukan indikasi adanya kecurangan.
Pada bulan Juni 2002, divisi
Amerika menyatakan bahwa Andersen terbukti bersalah oleh pengadilan federal
dalam menghalangi penegakan hukum. Andersen mengakui bahwa firmanya bersalah
karena menganggap penghancuran dokumen-dokumen tersebut merupakan kegiatan
rutin yang sudah sangat sering mereka lakukan. Akhirnya, Andersen menutup Firma
Akuntan Publiknya di Amerika Serikat sebagai hukuman.
Beberapa pelajaran yang dapat
dipetik dari bencara Enron-Andersen adalah pentingnya memiliki kesadaran dan
ketaatan akan tanggung jawab auditor, Etika Profesi, Kesadaran Etik, Komitmen
profesi, dan Good Corporate Governance bagi para auditor individu maupun
lembaga. Tidak hanya itu pentingnya memahami bisnis dan industri perusahaan
untuk mengidentifikasi risiko bisnis yang signifikan, salah saji material dalam
laporan keuangan haruslah digarisbawahi oleh para auditor agar dapat membuat
para klien dan calon klien semakin percaya kepada kinerja para profesional
akuntan publik.
Sejarah Big Four
The Big Four adalah kelompok empat firma jasa profesional
dan akuntansi internasional terbesar, yang menangani mayoritas pekerjaan audit
untuk perusahaan publik maupun perusahaan tertutup. Firma Empat Besar adalah
sebagai berikut:
1. Deloitte Touche Tohmatsu, yang berkantor
pusat di Amerika Serikat.
2. PricewaterhouseCoopers, yang berkantor
pusat di Britania Raya.
3. Ernst & Young, yang berkantor pusat
di Britania Raya.
4. KPMG, yang berkantor pusat di Belanda
8 Besar KAP Yang Mengerucut Menjadi 4 besar.
Kelompok ini sempat dikenal
sebagai "Delapan Besar", dan berkurang menjadi "Lima Besar"
melalui serangkaian kegiatan merger. Lima Besar menjadi Empat Besar setelah
keruntuhan Arthur Andersen pada 2002, karena keterlibatannya dalam Skandal
Enron.
Selama bertahun-tahun, ada
delapan kantor akuntan besar yang disebut sebagai Delapan Besar. Dalam tahun
1979, yaitu :
- Arthur Andersen
- Arthur Young & Co
- Coopers & Lybrand (aslinya Lybrand, Ross Bros, &
Montgomery)
- Ernst & Whinney (hingga 1979 Ernst & Ernts di AS dan
Whinney Muray di Britania Raya)
- Deloitte Hanskins & Sells (hingga 1978 Hanskins & Sells di
AS dan Deloitte & Co di Britania Raya)
- Peat Marwick Mitchell (selanjutnya menjadi Peat Marwick kemudian
KPMG)
- Price Waterhouse
- Touche Ross
Pada tahun 1989-1998, Delapan
Besar ini menjadi Enam Besar setelah terjadi merger antara Deloitte, Hanskins
and Sells, serta Touche Ross untuk membentuk Deloitte & Touche, dan merger
antara Ernst & Whinney dan Arthur Young untuk membentuk Ernst & Young.
Pada tahun 1998-2002,
peringkat kantor-kantor terbesar itu menyusut lagi menjadi Lima Besar ketika Price Waterhouse dan Coopers &
Lybrand bergabung untuk membentuk PriceWaterhouseCoopers.
Pada tahun 2002, Arthur
Andersen bangkrut karena terlibat skandal Enron Co. Kantor-kantor koleganya
yang berada dibawah bendera Arthur Andersen seluruhnya dijual dan kebanyakan
menjadi anggota kantor akuntan internasional lainnya. Tutupnya Andersen
kemudian sekarang menyisakan Empat Besar kantor akuntan internasional, yaitu :
- Deloitte & Touche
- Ernst & Young
- PricewaterhouseCoopers
- KPMG
Sumber :
Alvin A. Arens, Randal J.
Elder, Mark S. Beasley, Auditing dan Jasa Assurance Jilid 1 Edisi Keduabelas
(Jakarta:Penerbit Erlangga, 2008), hlm.33, 34, 38, 115.
Jurnal Akuntansi Dan
Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Widyata, Vol 4 No.1, 2002. hal 10, 11,
14, 15.