Betulkah para miliarder lebih cerdas dari masyarakat awam?
Wah apa iya miliarder yang banyak duitnya itu lebih
cerdas daripada masyarakat biasa? Banyak penelitian menyimpulkan bahwa
kesuksesan tak selalu terkait dengan berfungsinya struktur kecerdasan.
Kesuksesan bisa diraih dengan bekerja, keadaan dan waktu yang diaplikasikan
dalam keahlian khusus.
Namun anggapan yang berkembang cukup lama ini tak sepenuhnya benar.
Namun anggapan yang berkembang cukup lama ini tak sepenuhnya benar.
Sebuah studi terbaru dari peneliti Duke University,
Jonathan Wai, menemukan adanya keterkaitan yang erat antara kemampuan otak dan
kesuksesan, khususnya kekayaan.
Seperti dikutip dari laman CNBC, Sabtu (13/4/2013), laporan Wai tersbut menyatakan, "Kalangan masyarakat 1% dengan kekayaan besar senantiasa tumpang tindik dengan kalangan 1% dalam hal otak."
Studi tersebut menemukan, 45% kalangan miliarder termasuk dalam kelompok teratas dalam hal kemampuan kognitif.
Seperti dikutip dari laman CNBC, Sabtu (13/4/2013), laporan Wai tersbut menyatakan, "Kalangan masyarakat 1% dengan kekayaan besar senantiasa tumpang tindik dengan kalangan 1% dalam hal otak."
Studi tersebut menemukan, 45% kalangan miliarder termasuk dalam kelompok teratas dalam hal kemampuan kognitif.
Kalangan miliarder ini umumnya lebih cerdas
dibandingkan para eksekutif (CEO) di daftar Fortune 500 yang hanya menempatkan
38,6% dalam jajaran masyarakat pintar.
Dalam hal kepintaran, para senator atau politikus justru berada di bawah miliarder dan sejajar dengan para hakim dengan porsi sebesar 41%.
Dalam hal kepintaran, para senator atau politikus justru berada di bawah miliarder dan sejajar dengan para hakim dengan porsi sebesar 41%.
Bahkan diantara kalangan miliarder sendiri, kekuatan
otak dari para orang kaya ini terbagi dalam beberapa variasi. Miliarder yang
mendapatkan kekayaan dari investasi dan teknologi termasuk golongan orang
terpintar. Studi menunjukan 69-63% dari kalangan miliarder ini bisa masuk
golongan orang terpintar.
Sementara miliader yang mendapat harta kekayaan dari
bisnis fashion dan ritel, seperti makanan, cenderung tak terlalu pintar.
Tercatat hanya 25-23% yang bisa masuk kalangan elit terpintar.
Namun harus diakui masih terdapat kekurangan dari studi yang dibuat Wai ini. Penelitian Wai hanya mengukur kemampuan kognitif dengan menghadirkan 29 perguruan tinggi elite. Kalangan ini dianggap mampu menghadirkan kriteria sebagai masuarakat dengan level kemampuan otak tinggi.
Klaim ini tentu tak sepenuhnya benar. Studi Wai juga mengingatkan terdapat faktor lain selain skor tes dan IQ yang berperan penting dalam menentukan perguruan tinggi eliet seperti kekayaan, beasiswa olahraga, dan atribut lainnya.
Namun harus diakui masih terdapat kekurangan dari studi yang dibuat Wai ini. Penelitian Wai hanya mengukur kemampuan kognitif dengan menghadirkan 29 perguruan tinggi elite. Kalangan ini dianggap mampu menghadirkan kriteria sebagai masuarakat dengan level kemampuan otak tinggi.
Klaim ini tentu tak sepenuhnya benar. Studi Wai juga mengingatkan terdapat faktor lain selain skor tes dan IQ yang berperan penting dalam menentukan perguruan tinggi eliet seperti kekayaan, beasiswa olahraga, dan atribut lainnya.
Sebagian besar kalangan pintar biasanya tak memilih sekolah di perguruan tinggi
elit karena alasan keuangan atau alasan lain.
Sebuah penelitian sebelumnya menyimpulkan, "IQ tak selalu berkaitan dengan kekayaan Anda." (Shd)
Sebuah penelitian sebelumnya menyimpulkan, "IQ tak selalu berkaitan dengan kekayaan Anda." (Shd)
SEMOGA BERMANFAAT :)
Sumber: bisnis.liputan6.com
No comments:
Post a Comment